Dalam beberapa tahun terakhir, glamping menjadi tren baru di industri hospitality. Konsep menginap di alam dengan fasilitas nyaman terlihat sangat menarik, terutama bagi wisatawan yang mencari pengalaman berbeda. Namun di lapangan, banyak pengelola glamping menghadapi masalah yang sama: view bagus, konsep unik, tapi booking tidak semudah hotel.
Pertanyaannya, kenapa glamping sering kali lebih sulit dijual dibanding hotel biasa? Jawabannya bukan karena produknya kurang bagus, melainkan karena karakter glamping membutuhkan pendekatan hotel marketing yang berbeda.
Glamping Bukan Produk Mass Market
Hotel pada umumnya adalah produk mass market. Semua orang paham apa itu hotel, bagaimana cara booking-nya, dan apa ekspektasi dasarnya. Sementara glamping adalah produk niche yang tidak cocok untuk semua orang. Tidak semua tamu nyaman:
- Menginap dekat alam
- Dengan akses terbatas
- Jauh dari pusat kota
- Dengan konsep outdoor
Karena itu, menjual glamping dengan cara hotel konvensional sering kali tidak efektif.
Masalah Utama dalam Menjual Glamping
1. Segmentasi Pasar yang Terlalu Umum
Banyak glamping dipasarkan ke semua orang. Padahal, glamping lebih cocok untuk segmen tertentu seperti couple, honeymoon, atau traveler pencari experience. Dalam hotel marketing, segmentasi yang salah akan membuat pesan promosi tidak relevan.
2. Ekspektasi Tamu yang Tinggi
Harga glamping sering kali lebih tinggi dari hotel biasa. Hal ini membuat calon tamu memiliki ekspektasi yang juga lebih tinggi. Jika pesan marketing, visual, dan deskripsi tidak mampu membangun persepsi nilai, tamu akan ragu untuk booking.
3. Sulit Dibandingkan di OTA
Hotel mudah dibandingkan: lokasi, bintang, fasilitas. Glamping lebih sulit karena nilai jualnya ada pada pengalaman. Jika tidak dikemas dengan baik, glamping akan kalah di listing OTA meskipun sebenarnya unik.
4. Funnel Penjualan Lebih Panjang
Tamu glamping jarang booking secara impulsif. Mereka biasanya:
- Melihat konten
- Mencari review
- Membandingkan beberapa opsi
- Baru memutuskan booking
Tanpa funnel hotel marketing yang jelas, banyak calon tamu hilang di tengah proses.
5. Pesan Marketing Kurang Emosional
Kesalahan umum lainnya adalah menjual glamping hanya dari sisi fasilitas. Padahal, tamu glamping membeli pengalaman, suasana, dan cerita, bukan sekadar tempat tidur.
Perbedaan Pendekatan Hotel Marketing untuk Glamping
Hotel marketing untuk glamping tidak bisa disamakan dengan hotel kota atau resort. Glamping membutuhkan:
- Storytelling yang kuat
- Visual yang membangun emosi
- Pesan yang fokus pada experience
- Channel marketing yang tepat sasaran
Glamping yang berhasil dijual dengan baik biasanya tidak mengandalkan diskon besar, tetapi persepsi nilai yang kuat.
Peran Data dalam Menjual Glamping
Karena pasarnya lebih sempit, glamping sangat membutuhkan strategi berbasis data. Data membantu pengelola memahami:
- Segmen tamu yang paling responsif
- Channel yang benar-benar menghasilkan booking
- Konten apa yang paling menarik calon tamu
Pendekatan berbasis data inilah yang menjadi dasar dalam strategi hotel marketing modern.
Bagaimana ecommerceloka Membantu Menjual Glamping Lebih Efektif
Melalui pendekatan menyeluruh, ecommerceloka membantu glamping membangun strategi hotel marketing yang sesuai dengan karakter produknya. Fokusnya bukan hanya meningkatkan exposure, tetapi memastikan pesan, channel, dan funnel penjualan selaras dengan target pasar.
Dengan strategi yang tepat, glamping tidak perlu bersaing di harga dengan hotel, melainkan unggul lewat experience dan positioning yang jelas.
Glamping lebih sulit dijual dibanding hotel bukan karena konsepnya lemah, tetapi karena membutuhkan strategi hotel marketing yang lebih spesifik dan terarah. Tanpa segmentasi yang jelas, pesan yang emosional, dan funnel penjualan yang rapi, potensi glamping sulit dimaksimalkan.
Dengan pendekatan yang tepat dan dukungan strategi seperti yang dilakukan oleh ecommerceloka, glamping dapat berubah dari sekadar “punya view bagus” menjadi produk experience yang konsisten menghasilkan booking.
